***
Selama dua minggu gue dan Jihan ngga ketemu
langsung. Selama ini kita cuma berhubungan lewat perangkat elektronik dan gue
merasa semua baik-baik saja. Menurut gue perkembangan elektronik berkembang
jauh banget ke depan. Gue yang terpisah jarak ratusan kilo meter bisa saling
tatap muka dalam hitungan detik menggunakan alat elektronik yang biasa disebut video
call. Kalau gue inget-inget lagi dulu saat gue masih SD, handphone dengan
fitur getar saat menerima telepon atau pesan singkat merupakan penemuan
terbesar. Dibandingkan dengan sekarang di mana kita bisa saling tatapi muka
dengan orang di luar negeri dengan biaya yang dibilang cukup murah. Mungkin
kalau Alexander Graham Bell masih hidup sampai sekarang dia bakal banting
telepon engkolnya karena penemuannya tidak seberapa dengan teknologi saat ini.
Selama dua minggu ini juga pesan-pesan yang
kita kirim hampir selalu sama. “aku kangen kamu, sayang” atau “I really miss
you” dan kata-kata semacamnya selalu terlihat saat kita sedang chatting-an.
Ngga banyak yang bisa gue lakukan saat menerima pesan seperti itu. Seringnya
gue bales dengan “aku juga kangen kamu” atau terkadang kalau memang lagi ngga
begitu sibuk, gue jawab dengan “skype-an yuk kalo gitu”. Masalah jarak
benar-benar terasa di saat seperti itu. Dulu waktu gue sama Jihan masih
sama-sama di Semarang pasti salah satu dari kita nyamperin buat sekedar ngobrol
atau sekedar pengin lihat aja. Akan tetapi semua berbeda saat kita hidup
berjauhan. Nyamperin ngga semudah dulu. Gue harus menempuh ratusan kilo meter
buat ketemu. Malam ini gue harus mendapatkan pesan seperti itu sekali lagi.