Sore itu matahari terlihat sudah cukup lelah untuk terus bersinar
menerangi dataran bumi tempat gue sedang duduk bersama Jane. Warnanya pun tak
lagi seperti saat masih berada teapat di atas. Sedikit demi sedikit matahari
tenggelam dam mengeluarkan warna yang eksotis, kuning kemerahan. Sementara gue
masih tertawa bahagia bersama Jane yang sedari tadi belum beranjak dari kafe
langganan kita berdua. Hari itu gue memang lebih memilih duduk mengobrol berdua
dengan Jane daripada pergi ke luar kota untuk menghabiskan hari libur. Tawa kita
berdua masih memenuhi ruangan kafe yang tidak cukup besar itu. gue sendiri
bahagia karena baru minggu lalu klub sepak bola faforit gue baru saja
memenangkan piala FA setelah sembilan tahun gue hanya bisa diam melihat klub
lain mengangkat piala. Tak ada yang bisa menandingi kebahagiaan itu selain kenyataan
bahwa hari ini Jane yang bayarin makan gue.
Gue yang masih belum bisa beralih dari euforia Arsenal yang
mengakhiri puasa gelarnya, terus-terusan mencari gambar perayaan tim yang
dilakukan di kota London. Gue selalu bahagia melihat Jack Wilshere, pemain
favorit gue, tersenyum sambil mengangkat piala bersama rekan-rekan lainnya.
“Sayang, itu di London, ya?” tanya Jane mencari perhatian gue
karena beberapa waktu gue sibuk dengan laptop gue menyaksikan foto pawai tim
Arsenal di London.
“um…” gue masih mengacuhkannya.
“pemain itu namanya siapa?” Jane melakukan usahanya yang kedua buat
dapet perhatian dari gue.
“ha…?” gue tetep scrolling layar laptop gue tanpa menanggapi
pertanyaan Jane.
“Dengerin aku dulu!”
“iya, sayang, gimana tadi?” gue langsung mengalihkan perhatian gue
ke Jane yang sepertinya bakal nancepin pisau steak kalau gue enggak
segera nanggepin dia.
“bisa nggak, sih, kamu fokus ke aku dulu. Arsenal kan udah dari minggu
kemaren juara, ngapain, sih, masih liatin fotonya, aja?”
“sayang, udah sembilan tahun aku ngga ngelihat Arsenal ngerayain
hal kayak gini. Maklum dong kalo aku belum move on” gue jawab dengan
nada rendah berharap dia juga bisa merendahkan nada bicaranya.
“tapi kita baru ketemu sekali ini setelah satu bulan dan kamu lebih
milih nontonin foto Arsenal daripada merhatiin aku?”
“sayang, satu bulan itu baru 30 hari. Sembilan tahun itu 2.925
hari. jadi satu bulan nggak bisa dibandingin dengan Sembilan tahun” kata gue
coba melogikakan alasan gue agar lebih mudah diterima sama Jane.
“kalo kamu masih terus-terusan belain Arsenal, kamu bayar sendiri
pesenan kamu” ancam Jane. Gue langsung menutup laptop gue dan mengalihkan
perhatian gue ke Jane. Pilihan terbaik daripada gue harus nyuci piring semalan
di kafe.
Gue udah dua tahun menjalani hubungan dengan Jane sebagai pacar. Berantem
seperti tadi sudah biasa terjadi. Dia tahu kelemahan gue di mana. Dia tahu gue
paling ngga bisa nolak traktiran. Atau lebih tepatnya gue paling ngga bisa
kalau disuruh bayar sendiri. Gue sendiri ngga gampang buat bisa ketemu sama
Jane meski kita tinggal di kota yang sama. Waktu gue sendiri penuh dengan
kegiatan dari kampus. Begitu juga dengan Jane yang beda kampus dengan gue.
awalnya gue sempat merasa ngga betah dengan keadaan seperti itu. Tapi
temen-temen gue selalu meyakinkan gue agar terus menjalani hubungan gue dengan
Jane.
“ngga gampang, man, bisa dapet pacar kayak Jane” saran temen
gue.
“makasih, man!” jawab gue.
“…apalagi dengan muke lu yang kayak gitu” lanjut temen gue. sialan
mereka memang.
Matahari sudah tak terlihat sama sekali. Adzan maghrib berkumandang
dari seluruh arah. Sudah tiga jam gue dan Jane menghabiskan waktu berdua hari
itu. sudah waktunya untuk memesan menu makan malam. Selama gue sibuk dengan
daftar menu, Jane membuka laptop gue yang masih di meja dan mengetikkan dua
kata di kolom yang tersedia pada situs google.com. ‘Wisata London’ terlihat
setelah gue mengamati apa yang dilakukan pacar gue waktu itu. Gue sendiri ngga
tahu apa yang bakal dilakukan pacar gue. Ternyata dia mencari gambar tempat
wisata yang ada di London.
“kamu tahu nggak sebenarnya banyak banget tempat indah yang ada di
London selain Emirates Stadium, loh!” kata Jane sambil menggeser layar ke
bawah. Gue memajukan kepala gue melihat foto-foto yang ada di layar laptop. Ternyata
banyak sekali tempat menarik yang harus dikunjungi saat berada di London.
London Eye dan Buckingham Palace menjadi tempat yang paling menyita perhatian
gue waktu itu.
“kok kamu tahu tempat-tempat ini?” tanya gue sembari menatap mata
Jane.
“aku sudah dari dulu banget pengin ke London” Jane menjawabnya
dengan lembut dan penuh senyuman. Gue memeluknya dengan erat seperti berterima
kasih telah membukakan mata gue yang hanya tahu Emirates Stadium sebagai tujuan
liburan di London.
“dan kamu tahu enggak bagian terbaik dari seluruh kota London?”
“Buckingham Palace?” gue menebak.
Jane tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Jemarinya kembali
menuju keyboard laptop dan mengetikkan dua kata dengan satu jarinya dari
satu huruf ke huruf lainnya. Sepertinya dia memang sengaja bikin gue pensaran. Setelah
semua huruf tertata menjadi dua kata, gue baru bisa membaca ‘King’s cross’. Gue
Cuma mengernyitkan dahi sambil mengamati foto-foto yang muncul di layar. Meski gue
merasa enggak asing dengan nama itu, gue masih belum bisa menebak dengan pasti
tempat itu. Jane melihat gue yang masih bingung dan memutuskan untuk
menambahkan kata ‘platform ¾’ setelah kata King’s Cross di kolom pencarian. Gue
baru sadar itu adalah tempat Harry Potter dan teman-temannya berangkat menuju
Hogwart setiap tahunnya.
“sekarang kamu sudah tahu, kan, kenapa aku pengin banget ke London?”
Gue cuman bisa jawab dengan anggukan.
“aku udah ngga sabar banget buat pergi ke London!” dengan semangat
gue bilang ke Jane. “aku punya tabungan sedikit di bank, hape, dan motor. Gimana
kalo aku jual buat berangkat ke London secepatnya. Sisa kuliah aku berangkat
naik angkot tiap hari juga nggak apa-apa yang penting bisa berangkat ke London!”
“sabar, sayang! Semua pasti ada waktunya. Nggak usah buru-buru
gitu. Ke London ngga sesimpel pergi ke Bandung”
Gue pun menyadari pengetahuan gue terlalu sempit soal Inggris. Masih
banyak tempat yang sangat harus dikunjungi selain Emirates Stadium dan Wembley
Stadium. Masih ada Trafalgar Square, Big Ben, ataupun Westminster Abbey. Gue berharap
sekali bisa mengunjungi King’s Cross, tepatnya di Platform 9 ¾, dan juga
Buckingham Palace. Tapi semua itu setelah berfoto di sebelah patung Thierry
Henry dan Dennis Bergkamp di Emirates stadium.
“rajin-rajin nabung duit lagi biar bisa cepet berangkat ke London. Pokoknya
kalo aku udah punya duit cukup buat berangkat ke London duluan, aku nggak mau
nungguin kamu. Aku berangkat duluan!” kata Jane sedikit mengancam gue, tapi
tetap tersenyum. Gue pun Cuma bisa tersenyum. “udah, cepetan pesen makan
malamnya” sambungnya
“yang ini masih tetep dibayarin, kan?” Jane tertawa mengira gue
becanda. Gue pun ikut ketawa karena ngga enak. “aku nanya serius loh?!”