Sabtu, 19 September 2015

Ngopi Bareng Karen Part 2



***

Selama dua minggu gue dan Jihan ngga ketemu langsung. Selama ini kita cuma berhubungan lewat perangkat elektronik dan gue merasa semua baik-baik saja. Menurut gue perkembangan elektronik berkembang jauh banget ke depan. Gue yang terpisah jarak ratusan kilo meter bisa saling tatap muka dalam hitungan detik menggunakan alat elektronik yang biasa disebut video call. Kalau gue inget-inget lagi dulu saat gue masih SD, handphone dengan fitur getar saat menerima telepon atau pesan singkat merupakan penemuan terbesar. Dibandingkan dengan sekarang di mana kita bisa saling tatapi muka dengan orang di luar negeri dengan biaya yang dibilang cukup murah. Mungkin kalau Alexander Graham Bell masih hidup sampai sekarang dia bakal banting telepon engkolnya karena penemuannya tidak seberapa dengan teknologi saat ini.

Selama dua minggu ini juga pesan-pesan yang kita kirim hampir selalu sama. “aku kangen kamu, sayang” atau “I really miss you” dan kata-kata semacamnya selalu terlihat saat kita sedang chatting-an. Ngga banyak yang bisa gue lakukan saat menerima pesan seperti itu. Seringnya gue bales dengan “aku juga kangen kamu” atau terkadang kalau memang lagi ngga begitu sibuk, gue jawab dengan “skype-an yuk kalo gitu”. Masalah jarak benar-benar terasa di saat seperti itu. Dulu waktu gue sama Jihan masih sama-sama di Semarang pasti salah satu dari kita nyamperin buat sekedar ngobrol atau sekedar pengin lihat aja. Akan tetapi semua berbeda saat kita hidup berjauhan. Nyamperin ngga semudah dulu. Gue harus menempuh ratusan kilo meter buat ketemu. Malam ini gue harus mendapatkan pesan seperti itu sekali lagi.

Minggu, 06 September 2015

Ngopi Bareng Karen



Suasana saat itu benar-benar ramai di kantor. Tidak terlalu mengejutkan buat gue sebenarnya, karena ini adalah hari jumat, di mana semua orang mencoba menyelesaikan semua pekerjaannya hari ini agar saat akhir pekan mereka punya waktu yang lebih buat menikmati hidup. Gue sendiri masih duduk di kubik gue yang berukuran 2X2 meter. Gue sibuk melihat layar laptop gue yang penuh dengan kalimat-kalimat yang harus gue baca berkali-kali memastikan tidak ada yang terlewat sama sekali. Gue bukan orang yang gampang fokus. Terkadang mata gue emang tertuju ke layar laptop dan membaca beberapa kata di sana, tapi otak gue bisa saja memikirkan bagaimana cicak akhirnya memutuskan untuk memotong ekornya sebagai pertahanan diri. Gue kadang berpikir kenapa hewan ngga mempelajari cara manusia berjuang hidup, sedang manusia bener-bener mengamati hewan sampai akhirnya muncul beberapa jurus yang diambil dari nama hewan dan cara mereka bertahan dari serangan. Misalnya: jurus auman singa, jurus angsa, atau mungkin gue bisa menciptakan jurus baru: jurus burung boker di atas kepala orang. Gue yakin jurus terakhir bakal lebih bikin orang kapok buat nyerang. Karena hal-hal itu, gue harus mengulang lagi apa yang gue baca. Kubik gue tertutup oleh kayu di satu meter bawah dan kaca di setengah meter atas. Beberapa sticky note menempel di kaca sebelah kanan gue dan belakang laptop. Beberapa berisi catatan penting seperti kerjaan apa saja yang belum gue bikin dan juga tanggal deadline tiap kerjaan. Beberapa temen gue ada yang make kata-kata motivasi di dinding kubik mereka “biar kerjanya lebih semangat” kata mereka. Gue sendiri ngga nempelin tulisan-tulisan kayak gitu. Gue lebih banyak tulisan seperti “cicilan mobil udah mau dateng, tuh” atau “minggu depan Jihan dateng. Ngga mungkin, kan, lo mau ngedate sambil ngerjain tugas?”. Buat gue kata-kata seperti itu lebih bisa bikin gue kerja lebih keras.

Jihan sendiri adalah nama pacar gue. Gue udah pacaran sama dia selama satu tahun. Sayangnya baru satu bulan kita pacaran, kita harus melakukan hubungan jarak jauh. Gue kerja di Semarang, dia kerja sebagai dosen di Malang. Ngga ada pilihan lain lagi selain menjalani hubungan seperti itu. Beberapa temen gue selalu bilang kalo hubungan jarak jauh ngga bakal berhasil dengan baik.

“udah, putusin, aja. Kalo lo LDR, lo ngga tahu dia di sana bener-bener ngga punya pacar lagi apa ngga. Apalagi dia cantik kayak gitu dan muka lo yang kurang dari pas-pasan. Dia bakal milih yang lebih cakep kali kalo di sana tanpa pengawasan lo.” Kata salah satu temen gue yang rese.

“ya kalo emang dia emang nyari yang lebih cakep dari gue, ngga mungkin lah dia mau jadi pacar gue dari dulu.” Jawab gue santai.

Kamis, 31 Juli 2014

Kebetulan part 2



Gue inget banget waktu itu gue sedang menghabiskan waktu sore main-main sama ponakan gue. Di rumah gue Cuma ada ibu, kakak cowok gue sama istrinya, ponakan gue, dan gue sendiri. iya, gue emang sendiri. Akhir pekan waktu itu lebih menjenuhkan dari biasanya. Seharian nggak ada kegiatan yang cukup menyenangkan selain tidur. Karena mata udah terlalu terang setelah tidur seharian, gue memutuskan untuk menikmati malam hari di tempat favorit gue, coffee shop. Nggak tahu kenapa hari itu gue pengen nongkrong di tempat yang ada banyak donatnya. Setelah memasukkan laptop dan beberapa novel ke tas, gue segera berangkat. Setelah gue parkir mobil, gue melihat café dengan banyaknya pengunjung. Wajar, sih, sebenernya untuk tempat semcam itu karena emang café itu lebih sering dipake buat kumpul keluarga dan tempat pacaran. Apalagi akhir pekan seperti itu. Tapi agak beda dengan biasanya, gue nggak begitu mempedulikan hal itu. yang ada di pikiran gue waktu itu hanya donat dan kopi. Gue bisa mengacuhkan orang-orang yang sedang pacaran waktu gue udah madep laptop.
Setelah dari kasir sambil membawa coffee latte dan satu piring donat, gue segera berjalan ke arah tempat duduk yang kosong. Gue merasa kurang beruntung karena melihat smoking-area sudah penuh. Mau-tidak mau gue duduk di ruangan ber-AC yang tentu saja tidak diperbolehkan merokok. Yasudahlah gue mencoba menikmati malam itu sebisa mungkin. Setelah merasa cukup dengan makan dua buah donat kecil, gue mengeluarkan laptop dari tas.
“hai, Uda!” suara yang sepertinya pernah gue denger. Engga begitu akrab, tapi sepertinya gue tahu suara itu.

Senin, 28 Juli 2014

Kebetulan part 1


Gue bukan orang yang terlalu percaya dengan adanya kebetulan. Sering banget temen-temen bilang kalau banyak hal indah terjadi karena suatu kebetulan. Menurut gue semua yang indah terjadi karena rencana. Tapi gue menarik omongan gue setelah gue merasakannya berkali-kali.
           Setelah kuliah yang cukup melelahkan dari sore, gue sering menghabiskan waktu gue di coffee shop atau kafe deket kampus gue. gue bukan orang yang betah baca buku di rumah, apalagi di kamar. Menurut gue kafe mempunyai daya tarik sendiri untuk menyendiri ataupun ngoborol bareng temen-temen gue. Setelah beberapa menit gue duduk di taman kampus sambil ngobrol sama temen-temen, akhirnya mereka memutuskan buat balik ke rumah dan kos mereka masing-masing. Gue yang tinggal berdua sama temen gue, Leni, bengong di taman berdua.
“nggak balik, Da?” Leni nanyain.
Gue yang masih bengong meraih handphone di kantong celana sekedar untuk melihat jam sekalian memastikan apakah ada pesan atau panggilan masuk. “masih jam segini juga, sih. Paling nyari tempat ngopi dulu. kayak biasa.”

Sabtu, 31 Mei 2014

Saat Ini Hanya Impianmu, Hingga Impian Kita Berdua


Sore itu matahari terlihat sudah cukup lelah untuk terus bersinar menerangi dataran bumi tempat gue sedang duduk bersama Jane. Warnanya pun tak lagi seperti saat masih berada teapat di atas. Sedikit demi sedikit matahari tenggelam dam mengeluarkan warna yang eksotis, kuning kemerahan. Sementara gue masih tertawa bahagia bersama Jane yang sedari tadi belum beranjak dari kafe langganan kita berdua. Hari itu gue memang lebih memilih duduk mengobrol berdua dengan Jane daripada pergi ke luar kota untuk menghabiskan hari libur. Tawa kita berdua masih memenuhi ruangan kafe yang tidak cukup besar itu. gue sendiri bahagia karena baru minggu lalu klub sepak bola faforit gue baru saja memenangkan piala FA setelah sembilan tahun gue hanya bisa diam melihat klub lain mengangkat piala. Tak ada yang bisa menandingi kebahagiaan itu selain kenyataan bahwa hari ini Jane yang bayarin makan gue.

Gue yang masih belum bisa beralih dari euforia Arsenal yang mengakhiri puasa gelarnya, terus-terusan mencari gambar perayaan tim yang dilakukan di kota London. Gue selalu bahagia melihat Jack Wilshere, pemain favorit gue, tersenyum sambil mengangkat piala bersama rekan-rekan lainnya.
 





“Sayang, itu di London, ya?” tanya Jane mencari perhatian gue karena beberapa waktu gue sibuk dengan laptop gue menyaksikan foto pawai tim Arsenal di London.

“um…” gue masih mengacuhkannya.

“pemain itu namanya siapa?” Jane melakukan usahanya yang kedua buat dapet perhatian dari gue.

“ha…?” gue tetep scrolling layar laptop gue tanpa menanggapi pertanyaan Jane.

“Dengerin aku dulu!”

“iya, sayang, gimana tadi?” gue langsung mengalihkan perhatian gue ke Jane yang sepertinya bakal nancepin pisau steak kalau gue enggak segera nanggepin dia.

“bisa nggak, sih, kamu fokus ke aku dulu. Arsenal kan udah dari minggu kemaren juara, ngapain, sih, masih liatin fotonya, aja?”

“sayang, udah sembilan tahun aku ngga ngelihat Arsenal ngerayain hal kayak gini. Maklum dong kalo aku belum move on” gue jawab dengan nada rendah berharap dia juga bisa merendahkan nada bicaranya.

“tapi kita baru ketemu sekali ini setelah satu bulan dan kamu lebih milih nontonin foto Arsenal daripada merhatiin aku?”

“sayang, satu bulan itu baru 30 hari. Sembilan tahun itu 2.925 hari. jadi satu bulan nggak bisa dibandingin dengan Sembilan tahun” kata gue coba melogikakan alasan gue agar lebih mudah diterima sama Jane.

“kalo kamu masih terus-terusan belain Arsenal, kamu bayar sendiri pesenan kamu” ancam Jane. Gue langsung menutup laptop gue dan mengalihkan perhatian gue ke Jane. Pilihan terbaik daripada gue harus nyuci piring semalan di kafe.

Gue udah dua tahun menjalani hubungan dengan Jane sebagai pacar. Berantem seperti tadi sudah biasa terjadi. Dia tahu kelemahan gue di mana. Dia tahu gue paling ngga bisa nolak traktiran. Atau lebih tepatnya gue paling ngga bisa kalau disuruh bayar sendiri. Gue sendiri ngga gampang buat bisa ketemu sama Jane meski kita tinggal di kota yang sama. Waktu gue sendiri penuh dengan kegiatan dari kampus. Begitu juga dengan Jane yang beda kampus dengan gue. awalnya gue sempat merasa ngga betah dengan keadaan seperti itu. Tapi temen-temen gue selalu meyakinkan gue agar terus menjalani hubungan gue dengan Jane.

“ngga gampang, man, bisa dapet pacar kayak Jane” saran temen gue.

“makasih, man!” jawab gue.

“…apalagi dengan muke lu yang kayak gitu” lanjut temen gue. sialan mereka memang.

Matahari sudah tak terlihat sama sekali. Adzan maghrib berkumandang dari seluruh arah. Sudah tiga jam gue dan Jane menghabiskan waktu berdua hari itu. sudah waktunya untuk memesan menu makan malam. Selama gue sibuk dengan daftar menu, Jane membuka laptop gue yang masih di meja dan mengetikkan dua kata di kolom yang tersedia pada situs google.com. ‘Wisata London’ terlihat setelah gue mengamati apa yang dilakukan pacar gue waktu itu. Gue sendiri ngga tahu apa yang bakal dilakukan pacar gue. Ternyata dia mencari gambar tempat wisata yang ada di London.

“kamu tahu nggak sebenarnya banyak banget tempat indah yang ada di London selain Emirates Stadium, loh!” kata Jane sambil menggeser layar ke bawah. Gue memajukan kepala gue melihat foto-foto yang ada di layar laptop. Ternyata banyak sekali tempat menarik yang harus dikunjungi saat berada di London. London Eye dan Buckingham Palace menjadi tempat yang paling menyita perhatian gue waktu itu.
 




“kok kamu tahu tempat-tempat ini?” tanya gue sembari menatap mata Jane.

“aku sudah dari dulu banget pengin ke London” Jane menjawabnya dengan lembut dan penuh senyuman. Gue memeluknya dengan erat seperti berterima kasih telah membukakan mata gue yang hanya tahu Emirates Stadium sebagai tujuan liburan di London.

“dan kamu tahu enggak bagian terbaik dari seluruh kota London?”

“Buckingham Palace?” gue menebak.

Jane tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Jemarinya kembali menuju keyboard laptop dan mengetikkan dua kata dengan satu jarinya dari satu huruf ke huruf lainnya. Sepertinya dia memang sengaja bikin gue pensaran. Setelah semua huruf tertata menjadi dua kata, gue baru bisa membaca ‘King’s cross’. Gue Cuma mengernyitkan dahi sambil mengamati foto-foto yang muncul di layar. Meski gue merasa enggak asing dengan nama itu, gue masih belum bisa menebak dengan pasti tempat itu. Jane melihat gue yang masih bingung dan memutuskan untuk menambahkan kata ‘platform ¾’ setelah kata King’s Cross di kolom pencarian. Gue baru sadar itu adalah tempat Harry Potter dan teman-temannya berangkat menuju Hogwart setiap tahunnya.





“sekarang kamu sudah tahu, kan, kenapa aku pengin banget ke London?” Gue cuman bisa jawab dengan anggukan.

“aku udah ngga sabar banget buat pergi ke London!” dengan semangat gue bilang ke Jane. “aku punya tabungan sedikit di bank, hape, dan motor. Gimana kalo aku jual buat berangkat ke London secepatnya. Sisa kuliah aku berangkat naik angkot tiap hari juga nggak apa-apa yang penting bisa berangkat ke London!”

“sabar, sayang! Semua pasti ada waktunya. Nggak usah buru-buru gitu. Ke London ngga sesimpel pergi ke Bandung”

Gue pun menyadari pengetahuan gue terlalu sempit soal Inggris. Masih banyak tempat yang sangat harus dikunjungi selain Emirates Stadium dan Wembley Stadium. Masih ada Trafalgar Square, Big Ben, ataupun Westminster Abbey. Gue berharap sekali bisa mengunjungi King’s Cross, tepatnya di Platform 9 ¾, dan juga Buckingham Palace. Tapi semua itu setelah berfoto di sebelah patung Thierry Henry dan Dennis Bergkamp di Emirates stadium.





“rajin-rajin nabung duit lagi biar bisa cepet berangkat ke London. Pokoknya kalo aku udah punya duit cukup buat berangkat ke London duluan, aku nggak mau nungguin kamu. Aku berangkat duluan!” kata Jane sedikit mengancam gue, tapi tetap tersenyum. Gue pun Cuma bisa tersenyum. “udah, cepetan pesen makan malamnya” sambungnya

“yang ini masih tetep dibayarin, kan?” Jane tertawa mengira gue becanda. Gue pun ikut ketawa karena ngga enak. “aku nanya serius loh?!”