Kamis, 31 Juli 2014

Kebetulan part 2



Gue inget banget waktu itu gue sedang menghabiskan waktu sore main-main sama ponakan gue. Di rumah gue Cuma ada ibu, kakak cowok gue sama istrinya, ponakan gue, dan gue sendiri. iya, gue emang sendiri. Akhir pekan waktu itu lebih menjenuhkan dari biasanya. Seharian nggak ada kegiatan yang cukup menyenangkan selain tidur. Karena mata udah terlalu terang setelah tidur seharian, gue memutuskan untuk menikmati malam hari di tempat favorit gue, coffee shop. Nggak tahu kenapa hari itu gue pengen nongkrong di tempat yang ada banyak donatnya. Setelah memasukkan laptop dan beberapa novel ke tas, gue segera berangkat. Setelah gue parkir mobil, gue melihat café dengan banyaknya pengunjung. Wajar, sih, sebenernya untuk tempat semcam itu karena emang café itu lebih sering dipake buat kumpul keluarga dan tempat pacaran. Apalagi akhir pekan seperti itu. Tapi agak beda dengan biasanya, gue nggak begitu mempedulikan hal itu. yang ada di pikiran gue waktu itu hanya donat dan kopi. Gue bisa mengacuhkan orang-orang yang sedang pacaran waktu gue udah madep laptop.
Setelah dari kasir sambil membawa coffee latte dan satu piring donat, gue segera berjalan ke arah tempat duduk yang kosong. Gue merasa kurang beruntung karena melihat smoking-area sudah penuh. Mau-tidak mau gue duduk di ruangan ber-AC yang tentu saja tidak diperbolehkan merokok. Yasudahlah gue mencoba menikmati malam itu sebisa mungkin. Setelah merasa cukup dengan makan dua buah donat kecil, gue mengeluarkan laptop dari tas.
“hai, Uda!” suara yang sepertinya pernah gue denger. Engga begitu akrab, tapi sepertinya gue tahu suara itu.

Senin, 28 Juli 2014

Kebetulan part 1


Gue bukan orang yang terlalu percaya dengan adanya kebetulan. Sering banget temen-temen bilang kalau banyak hal indah terjadi karena suatu kebetulan. Menurut gue semua yang indah terjadi karena rencana. Tapi gue menarik omongan gue setelah gue merasakannya berkali-kali.
           Setelah kuliah yang cukup melelahkan dari sore, gue sering menghabiskan waktu gue di coffee shop atau kafe deket kampus gue. gue bukan orang yang betah baca buku di rumah, apalagi di kamar. Menurut gue kafe mempunyai daya tarik sendiri untuk menyendiri ataupun ngoborol bareng temen-temen gue. Setelah beberapa menit gue duduk di taman kampus sambil ngobrol sama temen-temen, akhirnya mereka memutuskan buat balik ke rumah dan kos mereka masing-masing. Gue yang tinggal berdua sama temen gue, Leni, bengong di taman berdua.
“nggak balik, Da?” Leni nanyain.
Gue yang masih bengong meraih handphone di kantong celana sekedar untuk melihat jam sekalian memastikan apakah ada pesan atau panggilan masuk. “masih jam segini juga, sih. Paling nyari tempat ngopi dulu. kayak biasa.”