Gue inget
banget waktu itu gue sedang menghabiskan waktu sore main-main sama ponakan gue.
Di rumah gue Cuma ada ibu, kakak cowok gue sama istrinya, ponakan gue, dan gue
sendiri. iya, gue emang sendiri. Akhir pekan waktu itu lebih menjenuhkan dari
biasanya. Seharian nggak ada kegiatan yang cukup menyenangkan selain tidur.
Karena mata udah terlalu terang setelah tidur seharian, gue memutuskan untuk
menikmati malam hari di tempat favorit gue, coffee shop. Nggak tahu kenapa hari
itu gue pengen nongkrong di tempat yang ada banyak donatnya. Setelah memasukkan
laptop dan beberapa novel ke tas, gue segera berangkat. Setelah gue parkir
mobil, gue melihat café dengan banyaknya pengunjung. Wajar, sih, sebenernya
untuk tempat semcam itu karena emang café itu lebih sering dipake buat kumpul
keluarga dan tempat pacaran. Apalagi akhir pekan seperti itu. Tapi agak beda
dengan biasanya, gue nggak begitu mempedulikan hal itu. yang ada di pikiran gue
waktu itu hanya donat dan kopi. Gue bisa mengacuhkan orang-orang yang sedang
pacaran waktu gue udah madep laptop.
Setelah dari
kasir sambil membawa coffee latte dan satu piring donat, gue segera berjalan ke
arah tempat duduk yang kosong. Gue merasa kurang beruntung karena melihat smoking-area
sudah penuh. Mau-tidak mau gue duduk di ruangan ber-AC yang tentu saja
tidak diperbolehkan merokok. Yasudahlah gue mencoba menikmati malam itu sebisa
mungkin. Setelah merasa cukup dengan makan dua buah donat kecil, gue
mengeluarkan laptop dari tas.
“hai, Uda!”
suara yang sepertinya pernah gue denger. Engga begitu akrab, tapi sepertinya
gue tahu suara itu.