Gue inget
banget waktu itu gue sedang menghabiskan waktu sore main-main sama ponakan gue.
Di rumah gue Cuma ada ibu, kakak cowok gue sama istrinya, ponakan gue, dan gue
sendiri. iya, gue emang sendiri. Akhir pekan waktu itu lebih menjenuhkan dari
biasanya. Seharian nggak ada kegiatan yang cukup menyenangkan selain tidur.
Karena mata udah terlalu terang setelah tidur seharian, gue memutuskan untuk
menikmati malam hari di tempat favorit gue, coffee shop. Nggak tahu kenapa hari
itu gue pengen nongkrong di tempat yang ada banyak donatnya. Setelah memasukkan
laptop dan beberapa novel ke tas, gue segera berangkat. Setelah gue parkir
mobil, gue melihat café dengan banyaknya pengunjung. Wajar, sih, sebenernya
untuk tempat semcam itu karena emang café itu lebih sering dipake buat kumpul
keluarga dan tempat pacaran. Apalagi akhir pekan seperti itu. Tapi agak beda
dengan biasanya, gue nggak begitu mempedulikan hal itu. yang ada di pikiran gue
waktu itu hanya donat dan kopi. Gue bisa mengacuhkan orang-orang yang sedang
pacaran waktu gue udah madep laptop.
Setelah dari
kasir sambil membawa coffee latte dan satu piring donat, gue segera berjalan ke
arah tempat duduk yang kosong. Gue merasa kurang beruntung karena melihat smoking-area
sudah penuh. Mau-tidak mau gue duduk di ruangan ber-AC yang tentu saja
tidak diperbolehkan merokok. Yasudahlah gue mencoba menikmati malam itu sebisa
mungkin. Setelah merasa cukup dengan makan dua buah donat kecil, gue
mengeluarkan laptop dari tas.
“hai, Uda!”
suara yang sepertinya pernah gue denger. Engga begitu akrab, tapi sepertinya
gue tahu suara itu.
“eh. Oh. Hai,
Nike!” setelah gue sadar sapaan itu berasal dari Nike, temen Leni yang
kebetulan ketemu pas ngopi bareng.
“ngopi lagi,
nih?” tanya Nike sambil seenaknya duduk di depan gue tanpa gue persilahkan.
“kelihatan
juga, sih, kalo di meja gue ada kopi” Nike ketawa mendengar jawaban gue. Meski
baru sekali ketemu dan ngobrol sama Nike, gue merasa udah nggak ada
kecanggungan dengan menjawab seperti itu. Kami berdua udah akrab.
“mau ngerjain
tugas? Kok pake ngeluarin laptop segala?” dia kembali nanya ke gue.
“iya. Biasa
tugas kuliah udah mulai ngabisin waktu week end gue” jawab gue meskipun gue
tahu rencana gue batal secara sempurna dengan datangnya Nike di depan gue.
“kebetulan
banget, ya, bisa ketemu di sini?” gue mulai nanya sama Nike.
“gue emang
biasa di sini, sih, soalnya gue suka donat.” Nike, pun menjawab dengan
tersenyum. Gue merasa kita berdua bener-bener nyambung. Gue menghabiskan waktu
cukup lama dengan Nike. Gue bener-bener merasa waktu tidak lagi berjalan.
Bukan. Maksud gue bukan lagi di-pause, gitu, tapi waktu nggak kerasa
udah berjalan cukup lama.
Dua jam gue
ngga nyentuh dua donat yang masih utuh di piring. Kopi gue pun bersisa terlalu
banyak untuk jangka waktu yang cukup panjang. Dalam waktu yang sama, gue udah
bisa menghabiskan dua gelas kopi kalau ngga ada Nike di sana. Gue ngga mau
mebuang waktu sia-sia hanya untuk menyeruput kopi dari gelas. Gue menemukan banyak
persamaan antara gue dan Nike. Gue suka kopi, dia juga. Nike suka baca buku,
gue juga. Gue suka nonton film, dia juga. Kita banyak bertukar opini dari sana.
Mulai dari sana gue sering memperhatikan kebiasaannya. Dia selalu pesen blended
coffee bareng dengan waffle coklat. Dia selalu mengakhiri ketawanya dengan kata
“aduh” untuk kembali mengambil nafas panjang.
“gue suka
tempat ini dari dulu.” Kata Nike kembali mengawali bahan pembicaraan setelah
kami berdua diam cukup lama. Bahkan memeberi waktu untuk gue buat meminum kopi
yang sudah cukup lama Cuma gue pegang.
“gue suka
kopi di sini. Manis.” Nike menambahkan. Gue menduga dia bakal meneruskannya
dengan kata “kayak muka gue yang manis ini” yang akan langsung bikin gue muntah
dari hidung.
“… bisa
menetralisir hidup gue yang sedari dulu selalu pahit.” Beruntung sekali dugaan
gue salah. Gue yang udah megang tissue untuk mengantisipasi kemungkinan
terburuk, muntah dari hidung, kembali gue taruh di meja.
“dari dulu
gue selalu salah memilih cowok untuk gue pacarin. Terakhir gue mengira cowok
gue adalah cowok yang perhatian sama gue, tapi ternyata gue salah. Dia lebih
cocok jadi satpam gue daripada pacar gue. overprotective.” Nike tertawa kecil
yang tentu saja bikin gue bingung bagaimana gue menanggapi hal tersebut. Gue
mau ikut ketawa tapi takut sedang menertawakan dia. Akhirnya gue menanggapinya
dengan meraih donat gue. Gue emang lagi laper.
Baru saja gue
menggigit donat pertama gue sejak kedatangan Nike, dia merogoh tasnya. Dia
terlihat mencari sesuatu dengan panik. Ternyata dia mencari handphone-nya yang
berbunyi.
“aku lagi di
kafe. Nggak usah kesini. bentar lagi juga pulang. Lagian aku bawa mobil
sendiri, kok. Iya, iya. Aku tahu.”
“Baru aja aku
cerita tentang pacar gue, dia udah telpon.” Setelah Nike menutup telpon.
“mungkin itu
yang disebut dengan… you know… connection.”
”tapi mungkin
juga kalo dia ngga telpon gue, gue ngga bakal tahu kalo ternyata kita sudah
lima jam di sini.” Nike menyadarkan gue kalo sekarang sudah cukup malam. Kita berdua
terlalu asik mengobrol satu dengan yang lain sampai lupa waktu.
“yaudah, gue
juga udah mau pulang. Besok masih ada kuliah pagi juga.”
Kita berdua
jalan menuju mobil masing-masing. Selama perjalanan pulang, gue ngga pernah
berhenti tersenyum mengingat apa yang terjadi sejak lima jam yang lalu. Gue yang
kebetulan mampir ke kafe donat, kebetulan Nike juga datang ke kafe yang sama.
Kebetulan gue mempunyai interest yang sama dengan Nike. Terlalu banyak
kebetulan untuk disebut sebuah kebetulan.
Gue juga suka ngopi loe gak pernah ngajak gue, gw suka nonton loe sekarang gak pernah ngajak juga huh ... cuma gw gak suka "debat" ... haha
BalasHapuskapan2 loe gw ajak ketempat ngopi favorite ... sederhana tapi asik , yang punya cakep juga... hahaha